DPRD Blitar Tolak Pembelian Rumah Bung Karno

Rumah yang berdiri di atas tanah seluas 14 ribu meter persegi tersebut akrab disebut dengan nama Dalem Gebang. [TEMPO/Dwidjo Utomo Maksum]
KABARBLITAR.com – Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Blitar Muhammad Syaiful Maarif menolak rencana pembelian rumah peninggalan Bung Karno. Pembelian itu dinilai mengganggu stabilitas keuangan daerah yang tidak terlalu besar.

Syaiful mengatakan keinginan Wali Kota Blitar Saman Hudi Anwar untuk mengambil alih rumah peninggalan Bung Karno menjadi aset daerah perlu dikaji ulang. Nilai sejarah bangunan yang dikenal dengan Istana Gebang ini, menurut dia, sangat tinggi. “Harusnya ini jadi aset negara dan dibeli oleh pemerintah pusat,” katanya kepada Tempo, Kamis (30/12).

Meski Pemerintah Provinsi Jawa Timur akan membantu pembelian bangunan yang dipatok Rp 35 miliar tersebut sebesar Rp 25 miliar, namun nilai yang harus ditanggung Pemerintah Kota Blitar masih cukup besar. Angka Rp 10 miliar yang ditetapkan Saman Hudi Anwar dikhawatirkan bisa mengganggu keuangan daerah yang tidak terlalu besar.

Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Kota Blitar tahun 2010 saja hanya sebesar Rp 400 miliar, atau naik Rp 50 miliar dari tahun sebelumnya. Jumlah tersebut sebagian besar sudah terserap habis untuk belanja gaji pegawai hingga 65 persen. Sedangkan sisanya masih harus diperuntukkan membangun sektor pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan sosial. “Anggaran pendidikan saja masih rendah,” kata Syaiful.

Anggota parlemen dari Partai Kebangkitan Bangsa ini meminta Wali Kota Blitar memiliki visi yang kuat untuk membangun rakyat. Jika memang berkeinginan menyejahterakan masyarakat, sebaiknya anggaran Rp 10 miliar yang akan dikucurkan untuk membeli Istana Gebang dibatalkan. Apalagi hingga saat ini pemerintah provinsi masih mengucurkan Rp 10 miliar dari nilai Rp 25 miliar yang dijanjikan. Itu pun masih belum diterima oleh pemerintah daerah.

Sementara di lain pihak Pemerintah Kota Blitar sudah berancang-ancang memasukkan biaya pembelian Istana Gebang sebesar Rp 10 miliar dalam APBD 2010. Dana tersebut muncul dalam pos anggaran cadangan hibah. “Kami meminta nilainya tidak usah langsung sebesar itu, paling tidak Rp 5 miliar saja agar tidak mengganggu keuangan daerah,” kata Syaiful.

Syaiful juga meminta kepada para ahli waris Bung Karno untuk turut menjaga warisan tersebut sebagai aset negara. Secara khusus dia ingin mendengar pernyataan maupun sikap Guruh Soekarno Putra soal rencana penjualan rumah tersebut.

Terpisah Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Pemerintah Blitar Hadi Maskun memastikan keputusan pemerintah untuk membeli Istana Gebang sudah final. Hal itu berdasarkan kesepakatan yang dibangun dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur beberapa waktu lalu soal mekanisme pembiayaannya. “Wali Kota sudah memastikan untuk membeli bangunan itu,” katanya.

Saat ini pemerintah masih melakukan pembicaraan serius dengan pemerintah provinsi dan ahli waris soal teknis jual beli tersebut. Dia optimistis Pemerintah Kota Blitar bisa mengambil alih dan mengelola bangunan itu untuk wisata sejarah. (HARI TRI WASONO)



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s